Masalah Transisi Sosial Pasca Sosialis Perkotaan dan Populasi

Masalah Transisi Sosial Pasca Sosialis Perkotaan dan Populasi

Masalah Transisi Sosial Pasca Sosialis Perkotaan dan Populasi – Studi tentang masalah sosial dan marjinalisasi di ruang kota memiliki tradisi panjang dalam penelitian ilmiah Barat. Namun, studi tentang masalah ini jauh lebih sedikit di negara-negara Eropa Tengah dan Timur atau CEE. Selain itu, sebagian besar penulis hanya menggunakan data statistik untuk memeriksa kepastiannya.

Dengan demikian kami telah memutuskan untuk menawarkan perspektif tentang persepsi masalah sosial dan marginalisasi dalam masyarakat perkotaan pasca sosialis. Dimana menggunakan pusat kota Praha sebagai studi kasusnya, kami menunjukkan bagaimana masalah sosial dianggap, ditafsirkan, dilokalisasi dan diatasi oleh aktor-aktor kunci dalam pembangunan sosial kota.

Makalah ini mengacu pada data yang dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur dengan para pelaku utamanya adalah pembangunan sosial di kota Praha. Hal ini termasuk pejabat kota, politisi lokal, otoritas polisi, dan organisasi non pemerintah atau LSM.

Latar belakang kerja yang berbeda dan juga tempat kegiatan di dalam dan di luar pusat kota praha, merupakan atribut penting untuk melakukan analisis wawancara. Kami akan membahas topik-topik umum berikut dengan para responden. Seperti fenomena sosial apa yang mereka anggap sebagai masalah perkotaan dan mengapa.

Kemudian dimana masalah ini dapat diselesaikan secara local, siapa saja tau pihak mana saja yang akan terkena dampaknya. Selanjutnya, apa akibatnya bagi manusia terhadap ruang kota, serta inisiatif dan tanggapan apa yang akan diambil terhadap kebijakan tersebut. Supaya mereka dapat mengindentifikasi tujuan tersebut, untuk memperbaiki masalah sosial yang terjadi ini. lilandcloe.com

Masalah Utama Yang Masyarakat Rasakan

Semua orang yang diwawancarai mencirikan pusat kota Praha sebagai tempat unik di dalam kota metropolitan. Terdapat konsensus bahwa pusat kota ini berfungsi sebagai magnet yang dapat menarik berbagai orang yang tertarik, dengan beragam peluang yang ditawarkan baik oleh pemerintah pusat kota maupun oleh ibu kota pada umumnya.

Konsentrasi dan fluktuasi orang, seperti didalam perusahaan dan lembaga ini. Menurut para responden yang kami tanya, tercermin bahwa dalam beberapa kejadian masalah sosial tertentu, terdapat beberapa masalah sosial yang jauh lebih tinggi. Beberapa masalah tersebut berada di zona pemerintahan pusat dan didaerah kota-kota lainnya.

Mereka mengidentifikasi bahwa terdapat tunawisma dan pecandu narkoba uang kekurangan layanan sosial sebagai masalah utama di pusat kota Praha. Hasil analisis ini juga serupa dengan hasil yang ditemukan di kota-kota Barat.

Pandangan Responden

Terdapat beberapa perbedaan sikap dan persepsi di antara para aktor dengan latar belakang pekerjaan mereka yang berbeda dari ( kota yang berkolaborasi dengan pihak LSM ), Agenda ( masalah sosial yang luas serta topik yang dipilih), atau ruang kerja kegiatan (di dalam atau di luar pusat kota praha ).

Aktor-aktor yang aktif di luar kota praha yang menangani pembangunan sosial secara umum cenderung menghubungkan masalah-masalah sosial pusat kota, dengan orang-orang yang aktivitas-aktivitasnya terlihat di ruang-ruang perkotaan. Seringkali juga mereka dipersepsikan secara negatif oleh publik.

Mereka tampaknya lebih dari sekedar mewakili pandangan public, daripada orang-orang yang terlibat dalam pembangunan sosial kota. Persepsi mereka cenderung dimediasi oleh perasaan pribadi, media, dan kesadaran publik secara umum. Narasi mereka menunjukkan mereka memprioritaskan suara yang mayoritas di atas populasi yang terpinggirkan.

Pendapat para aktor yang aktif di pusat kota juga mengandalkan lapisan pengetahuan yang kaya. Dimana hal ini dikumpulkan selama kehidupan kerja mereka sehari-hari. Masalah sosial dapat dilihat dari berbagai sudut pandang yang dikeluarkan oleh aktor dan juga pihak LSM.

Tetapi terdapat juga beberapa dari responden Balai Kota, yang menyuarakan keprihatinan mereka yang lebih besar tentang konteks struktural dan individu dari masalah sosial dan populasi yang terpinggirkan. Mereka menyadari efek dari lompatan yang tidak mereka inginkan serta rendahnya efisiensi terhadap

keberlanjutan situasi yang semakin memburuk. Dimana lompatan ini paling besar berasal dari, strategi pemindahan terhadap para tunawisma dan pecandu narkoba yang membuatnya, serta layanan yang membantu mereka.

Namun, mereka menganggap solusi lain yang dikondisikan oleh sikap dan aktivitas aktor lain yang sangat sulit akan memberikan dampak ketidak mungkin untuk memiliki pengaruh. Para aktor ini dihadapkan pada tantangan untuk mengakomodasi kelompok marjinal yang mengakar.

Tidak ada yang bisa diselesaikan di tingkat lokal, sehingga mereka juga dihadapkan pada kurangnya koordinasi di tingkat kota. Hal ini membuat mereka harus mengatasi ketiadaan strategi tingkat kota dan negara setiap bagian untuk menangani masalah masyarakat yang semakin mendalam yang ada.

Kebutuhan dan tuntutan berbeda

Otoritas lokal mengalami konflik antara tuntutan publik yaitu penduduk pusat kota dan kebutuhan seperti tuna wisma atau pecandu narkoba. Hal ini terlihat pada kontrasnya antara sikap responden Lembaga Sosial Masyarakat dan responden pemerintah kota setempat.

Sementara perspektif tingkat individu mencirikan sikap Lembaga Sosial Masyarakat, dengan pandangan yang berfokus pada tempat menjelaskan pendirian responden kota setempat. Lembaga sosial masyarakat juga cenderung mengelaborasi masalah sosial itu sendiri.

Hal ini termasuk penyebab kemasyarakatan dan pengaruhnya terhadap kualitas hidup dan peluang mereka yang terpinggirkan. Sebaliknya, pemerintah kota setempat tampaknya lebih memperhatikan tempat tersebut, dan mereka harus memperhitungkan penduduk dan penggunanya. Faktanya jika pandangan warga sosial diberikan bobot yang lebih, hal ini dapat menjadi salah satu faktor yang dapat dikaitkan dengan populasi.

Strategi

Berbagai kebijakan pemindahan telah diadopsi oleh pemerintah daerah untuk mengatasi masalah yang dirasakan. Seperti perpindahan, larangan konsumsi alkohol selain di dalam rumah masing-masing, pencegahan desain perkotaan, pengawasan, dan patroli polisi secara rutin.

Semua strategi ini dapat diartikan sebagai manifestasi dari tata kelola perkotaan kewirausahaan neoliberal dan urbanisme revanchist. Namun, kami berpendapat bahwa hal itu perlu dipelajari untuk lebih memahami sifat tanggapan kebijakan yang represif ini. Wawancara mendalam menunjukkan kondisi kompleks strategi pemindahan dan ketidaksesuaian antara praktik dan persepsi pemangku kepentingan lokal.

Kesimpulan

Dalam analisis wawancara yang telah dilakukan, kontras antara berbagai aktor dalam setiap persepsi masalah sosial dan populasi marjinal di pusat kota telah dikonfirmasi. Hal itu diantaranya berdasarkan latar belakang kerja yang berbeda.

Mulai dari pemerintah kota yang berkolaborasi dengan Lembaga sosial masrayarakat, agenda (masalah sosial yang luas, topik yang dipilih) atau ruang kerja kegiatan (di dalam atau di luar pusat kota). Aktor yang terlibat dalam pembangunan pusat kota atau dalam agenda sosial tertentu (tuna wisma, kecanduan narkoba, kurangnya layanan sosial)

memandang masalah sosial secara berbeda dibandingkan dengan mereka yang beroperasi di luar pusat kota dan menangani pembangunan sosial secara umum. Mereka sadar akan konteks masalah dan tidak menstigmatisasi orang-orang yang terpinggirkan. Namun, aktivitas mereka tidak selalu sesuai dengan persepsi mereka.

Mereka menghadapi berbagai jenis hambatan dalam pekerjaan mereka yang perlu diperhitungkan. Pengumpulan dan analisis wawasan mendalam tentang persepsi berbagai pemangku kepentingan sangat penting sehingga tanggapan kebijakan sosial dan spasial yang adil dapat dirancang dan diterapkan untuk kepentingan semua.